Biografi
Sayyid Quthb
Sayyid Quthb ialah seorang sastrawan, ilmuwan, pemikir
dan ahli tafsir yang berasal dari Mesir. Beliau telah banyak berkarya di
berbagai bidang. Nama lengkap beliau adalah Sayyid
Qutb Ibrahim Husain Syadzili. Sayyid Quthb dilahirkan pada tahun 1906 di sebuah desa di Asyut, Mesir yang
saat itu tradisi agamanya masih sangat kental. Oleh sebab itu, beliau tumbuh
menjadi seorang anak yang pandai agama. Bahkan pada umur yang sangat belia, yakni
10 tahun, Sayyid Quthb telah menjadi seorang hafidz. Kedua orang tua beliau
sangat mensupport atas kemampuan dan kepandaian yang dimiliki oleh Sayyid Quthb
waktu kecil. Seiring perjalanan dakwahnya, beliau turut andil dalam gerakan
Islam di bawah pimpinan Hasan Al Banna. Selain itu beliau juga banyak sekali
melahirkan tulisan besar.
Pendidikan
Sayyid Quthb
Sayyid Quthb menempuh pendidikan dasar di sekolah
Kuttab (TPA) dan lulus pada tahun 1918 M. Setelah Sayyid Quthb lulus pendidikan
dasar, beliau melanjutkan di Madrasah Tsanawiyah di Kairo pada tahun 1921 M. Setelah
itu Sayyid Quthb pindah ke tempat Ahmad Husain Utsman, pamannya yang seorang
jurnalis. Pada 1925 M Sayyid Quthb masuk ke institusi diklat keguruan, setelah
tiga tahun di sana beliau berhasil lulus. Tak berhenti di situ, beliau
melanjutkan mengejar gelar Sarjana Lc bidang sastra juga diploma pendidikan di Universitas
Dar al-Ulum. Sayid Quthb memang terlahir dari keluarga yang sederhana, namun
demikian semangat belajar beliau selalu menggebu. Terbukti beliau berhasil
masuk perguruan tinggi Tajhisziyah Dar al Ulum (Universitas Cairo). Pada saat
itu, tidak sembarang orang bisa menuntut ilmu di sana. Hingga akhirnya Sayyid
Quthb lulus dengan gelar sarjana pendidikan pada tahun 1933.
Karya Sayyid Quthb
Karya-karya Sayyid Quthb semasa hidupnya terdapat dua puluh lebih dalam berbagai bidang. Semasa hidupnya, beliau curahkan guna menulis buku-buku. Pada era sebelum tahun 1940-an, Sayyid Quthb banyak sekali menulis buku yang hampir tak ada unsur agamanya. Hingga di tahun 1940-an beliau mulai memasukkan pelajaran-pelajaran di dalam buku-bukunya. Di tahun 1850-an, beliau mulai menyoroti soal kemaslahatan, keadilan, dan fikrah Islam. Karya beliau yang terkenal di antaranya Fi Zhilal al-Quran dan Dirasat Islamiyah.
Karya-karya Sayyid Quthb semasa hidupnya terdapat dua puluh lebih dalam berbagai bidang. Semasa hidupnya, beliau curahkan guna menulis buku-buku. Pada era sebelum tahun 1940-an, Sayyid Quthb banyak sekali menulis buku yang hampir tak ada unsur agamanya. Hingga di tahun 1940-an beliau mulai memasukkan pelajaran-pelajaran di dalam buku-bukunya. Di tahun 1850-an, beliau mulai menyoroti soal kemaslahatan, keadilan, dan fikrah Islam. Karya beliau yang terkenal di antaranya Fi Zhilal al-Quran dan Dirasat Islamiyah.
Saking
cintanya dengan menulis, bahkan saat dipenjara pun beliau banyak melahirkan
karya-karya besar. Karya tersebut yaitu Hadza al-Din, Al-Mustaqbal li Hadza
al-Din, Khasha`is al-Tashawwur al-Islami wa Muqawwimatihi al-Islam wa Musykilah
al-Hadharah, dan Fi Zhilal al-Quran (lanjutannya).
Perjalanan Sayyid Quthb
Tidak berselang lama, Sayyid Quthb bekerja di Departemen Pendidikan Mesir sebagai pengawas pendidikan. Kinerja beliau sangat membanggakan sehingga beliau dikirim ke Amerika untuk menuntut ilmu. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, beliau langsung masuk di tiga perguruan tinggi sekaligus, yaitu Wilson’s Teacher’s College berletak di Washington, Stanford University di California, dan juga Greeley College di Colorado ia jelajahi.
Tidak berselang lama, Sayyid Quthb bekerja di Departemen Pendidikan Mesir sebagai pengawas pendidikan. Kinerja beliau sangat membanggakan sehingga beliau dikirim ke Amerika untuk menuntut ilmu. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, beliau langsung masuk di tiga perguruan tinggi sekaligus, yaitu Wilson’s Teacher’s College berletak di Washington, Stanford University di California, dan juga Greeley College di Colorado ia jelajahi.
Tidak puas hanya dengan itu, Sayyid Quthb menjelajahi
negara Eropa antara lain Inggris, Itali, Swiss, dan negara lainnya. Setelah
lama berkelana di Amerika dan Eropa, Sayyid Quthb kembali ke negara asalnya. Di
Mesir beliau bergabung dengan Ikhwanul Muslimin, beliau benar-benar terjun di
dalam dunia dakwah di sana. Namun pada 1951, Ikhwanul muslimin dilarang di
Mesir dan akan dibubarkan oleh pemerintah. Setelah itu Sayyid Quthb banyak
mengeluarkan opininya tentang kritikan pedas terhadap pemerintah. Hingga akhirnya
beliau harus keluar masuk penjara akibat tulisan-tulisannya yang mengedepankan
keadilan dan kebenaran itu.
